Skip navigation

“Kita bisa memilih bahagia bersama dengan menyakiti orang lain. Tapi kamu dan aku tau. Itu salah. Lantas kita bersepakat perihal perpisahan.”

Kita bertemu dengan kikuk dan serba salah. Jelas karena aku bersalah dan kamu benar. Kamu tak lagi ingin disentuh olehku. Sementara seluruh bagian tubuhku mengingat benar bagaimana cara menggenggam tanganmu, memelukmu, menyamakan langkahmu lantas pada satu ujung hari yang melelahkan mencium bibirmu kuat kuat. Aku tahu kamu benci itu, tapi hei, aku tak mahir berciuman. Barangkali juga tidak pandai menunjukan perasaan. Tapi kamu dan aku tahu kita sedang tidak bersama lagi. Kita bukan sepasang kekasih lagi, dan segala kenangan juga kebiasaan yang dulu kerap kita lakukan hanya sekedar satu titik kenangan yang begitu begitu saja.

Kamu masih seperti dulu. Cantik, menggemaskan dan membuatku selalu lemah. Rambut dan tubuh yang wangi juga tatapan mata yang menembus kebohongan. Kamu tahu aku selalu berbohong, juga tak bersetia, tapi kau menerimanya sebagai sebuah keadaan yang apa boleh buat. Tapi tentu setiap karang punya retaknya sendiri dan tiap gunung punya ledakannya sendiri. Barangkali itu tak penting sekarang, tidak lebih penting daripada kita berbahagia. Kamu berbahagia dengan segala apa adanya dirimu. Itu lebih baik daripada meratapi yang sudah terjadi.

Jarak terdekat dari kebijaksanaan adalah memaafkan orang yang berkhianat, sementara saudara terdekat kedewasaan adalah tersenyum menghadapi apapun. Mungkin ini selesai hari ini. Setelahnya hanya ada jarak-jarak yang memilukan dan melelahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: