Skip navigation

Aku, kamu dan kita tidak pernah tahu rencana yang akan dibuat oleh yang maha kuasa esok atau mungkin satu tahun lagi, atau lima tahun lagi atau 10 tahun lagi, atau kita bisa saja bertemu saat wajah kita sudah mulai keriput.

Aku dan kamu tanpa sengaja bertemu di sebuah tempat yang kita berdua tidak pernah tahu akan dipertemukan lagi dengan kondisi yang sudah berbeda, aku ragu untuk menyapa, dan mungkin kamu juga sudah tidak mengenal aku. Ditempat yang sebetulnya ramai oleh orang yang sedang memuaskan hasrat konsumerismenya. Kita terpaku lihat-lihatan bersikeras untuk mengingat nama dan bertegur sapa.

Aku: neng, kamu masih ingat aku, maaf apabila saya salah orang.

Kamu: (dengan wajah agak berpikir keras) mas, ini kamu yang sekarang?

Saat bertemu itu kondisi ku sudah setengah tua dengan uban-uban yang menyelinap diantara rambut hitamku, dan dia saat bertemu sudah menjadi ibu yang cukup cantik dan gaul untuk anaknya.

Aku: iya neng, ini aku, itu anakmu?

Kamu: iya mas, ini anakku, sekarang umurnya sudah dua tahun.

Aku: anakmu lucu neng, seperti ibunya, atau mungkin seperti bapaknya. Maaf waktu kamu menikah aku tidak hadir ke acaramu, mungkin kamu pahami ini.

Kamu: ga apa-apa mas, (dengan senyum kecil), kamu sehat, anakmu dimana mas?

Aku: aku belum menikah neng, aku masih memilih sendiri, aku belum siap untuk berhubungan dengan wanita yang aku kenal.

Kamu: kok kamu gitu mas, kamu gak seperti yang aku kenal, kenapa?

Aku: aku takut menyakiti wanita lagi neng, seperti apa yang aku lakukan ke kamu.

Kamu: kamu jangan se-naif itu mas, semua manusia udah punya jalanya masing-masing, kamu harus mencoba membuka hati kamu untuk yang lain.

Aku: aku udah coba neng, tapi tetap tidak bisa, setiap aku ingin mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, aku pasti teringat hubungan kita.

Kamu: ( menundukan kepala, sambil memegangi anaknya yang terus bergerak)

Aku: kamu ke sini sama siapa neng?

Kamu: sama mama, tapi ga tau tuh lagi beli apa disono ngga balik-balik.

Aku: kamu sekarang kelihatan lebih segar neng, dan bahagia, raut wajahmu sekarang lebih ringan seperti sudah tidak ada beban pikiran,

Kamu: makasih yaa mas. Cobalah kamu buka hati mas, kamu sekarang udah seperti ini, kenapa kamu masih mengingat-ingat hubungan kita, toh aku sekarang sudah punya suami yang menjaga aku dan anakku. Kamu harusnya sudah bisa menerima inikan lebih-lebih dengan umurmu yang sekarang.

Aku: iya neng, tapi itu sulit, tidak semudah seperti membalikan tangan neng.

Kamu: kamu masih sholatkan mas, masih mengngajikan?

Aku: masih neng.( sambil melihat mata si eneng)

Kamu: coba kamu banyak-banyak sholat tahajud atau sholat dhuha, mungkin akan membantu menenangkan hati kamu dan membuka hatimu untuk seseorang.

Aku: makasih neng sarannya

Kamu: kamu lagi deket sama siapa sekarang. (sambil senyum-senyum menggoda)

Aku: hehehehe, aku lagi ngga deket dengan wanita manapun neng.

Setelah kami berbincang lama akhirnya akupun berpisah, aku sengaja tidak meminta no telepon atau alamat rumah, karena aku ingin dia bahagia tanpa kehadiranku sepenuhnya, dan aku kembali mencari yang akan ku beli hari itu.

Aku tidak pernah tahu mengapa yang maha kuasa selalu mempertemukanku dengannya setelah aku hampir lupa dengannya, yaa hampir lupa, belum lupa sepenuhnya, dan pertemuan itu selalu terulang lagi dan lagi.mungkin memang sudah jalannya begini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: