Skip navigation

Pada awalnya adalah ingatan.

Kamu selalu tahu bahwa aku membenci matahari yang terlalu terik datang di waktu musim hujan. Karena aku suka hujan. mungkin aku lupa bilang. Karena waktu yang menembus bilik-bilik ingatan membuatku lupa apa saja yang telah kulepas dari mulutku ini. Mungkin kata atau umpatan. Aku lupa, mungkin karena sangat ingin lupa, peri-peri yang menjaga sungai kenangan mengabulkan inginku. Tetapi di hari terik ini(30/01/2014: 15.00) entah kenapa ingatan tentangmu datang lagi.

Kenapa selalu tentang ingatan?

Aku mau berkisah tentang ingatan, yang kusimpan rapi dalam kertas dan kumasukan dalam botol . Kisah tentang ingatan yang segar berumurhampir 2 tahun. Dalam kisah itu sebagian besar tentang kamu, tentang kita dan sedikit tentang hal-hal yang kita sukai. Ingatan itu masih kusimpan rapi dalam botol, bukan karena aku sentimentil. Tapi aku tak tahu cara menghancurkannya. Aku mau ingatan itu hilang tapi setiap kubuang, selalu kembali dengan cara yang sama. Dengan pita merah dan sepucuk surat tertulis “kumohon jangan kamu lupakan kisah kita”.

Aku terdiam tolol dan kembali menyimpan ingatan itu.

Ingatan itu menyenangkan, karena ia bercerita tentang kamu. Tentang senyum yang lepas, tentang rindu yang tebal. Dimana semantik-semantik cinta yang mulai bertunas? Itu sudah dikubur, semenjak kau dan aku saling acuh tak acuh. Saat aku mendiamkanmu begitu lama dan kau berkata tentang seorang pria. Aku menolak menangis tapi air dalam kantung mataku deras turun.

Kapan rasa sakit itu dimulai?

Di tengah bulan November yang panas, yang gerah. (Kenapa selalu gerah dan panas?) Kenangan remeh temeh tentang betapa kamu yang memakai baju putih dan jeans kesukaanmu itu begitu lekat di ingatanku. Ingatkah kau? Dimana kemudian kau datang kepada sarang buas dimana nalar dan kebebasanku di buai. Tapi nanti kau pun akhirnya ajarkan aku betapa kau itu begitu menarik. Saat itu kau tetap begitu purna meski terlihat banyak beban pikiran dan agak kurus.

Aku selalu ingat. Tapi entah kau.

Aku ingat sedikit jalan-jalan di kota ini, yang basah setelah hujan. Tentang awal tinggal dirimu di sebuah induk semang. Aku butuh perempuan tangkas yang tak bisa diam, yang tak peduli kulit hitam karena berjalan panas. Perempuan yang berebut membaca buku harry potter. Perempuan yang menolak patriarki tetapi begitu senewen minta di manjakan, Perempuan yang mau repot memasak, belajar membikin kue dan memaksaku untuk memakannya. Terus dan terus dan terus sampai aku bilang masakan bikinanmu enak. Lalu kau tersenyum puas. Kemandirian yang dibangun atas semangat kepanduan.

Itu kamu, yang membuat saya luluh.

Kemudian kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu? Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian bertegur kata. Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara, lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan.!

Aku rindu kau dalam banyak bahasa.

Keberanian untuk mengucap rindu itu lahir dari rahim-rahim biner dalam layar ponsel buatan Bavaria. Ya aku kemudian berani untuk mengambil resiko jatuh sayang padamu. Ya serupa nyali Perseus yang memusnahkan Kraken, aku putuskan untuk mengenalmu, mengejarmu, dan berusaha memilikimu lagi. Aih? Tidak, kau bukan untuk dimiliki, kau bukan benda, kau lebih luhur dari padan kata surga dan suci sekaligus. Meraih ya meraih, sehingga keberadaanku kau akui, aku akan meraih predikat itu. Aku mulai berani bertukar sapa dalam jejaring provider seluler. Karena menatapmu langsung akan membuatku ringkih, lemah dan tak berdaya. Sedikit demi sedikit aku membangun sedimen keberanian untuk bertemu denganmu, mengajakmu makan. Aku selalu kagum atas sikapmu yang tak ambil pusing, acuh diri dan penampilan. Itulah kamu. Keputusan untuk jatuh sayang, meski akhirnya sangat perih.

Hujan adalah kenangan yang pecah

Seperti hujan, ingatanku tentangmu itu mendung, basah, dingin dan pecah. Tetapi sampai detik ini aku masih jatuh sayang. Bukankah sayang itu pamrih? Ia memintaku tetap ingat sebagai imbalan jatuh sayangku padamu. Tentu kau ingat saat kuminta kau masak? Ya masak, kau bilang kau bisa masak, aku tak percaya, kau bilang coba saja, kujawab buktikan, dan esoknya kau bawakan aku makan. Dan sungguh aku tak percaya kenikmatan nsi gorengmu. Kau memang bukan Farah Quin, tetapi masakanmu jujur, sejujur mata terang berbinar serupa bintang saat kubilang masakanmu enak. Lain waktu kau bilang kau bikin kue, sedikit gosong, tak apalah, karena itu yang masak kau. Kau adalah dualisme Durga, kau begitu gagah dilapangan dengan bola ditangan, tapi kau juga selalu menangis karena takut gelap.

Aku selalu suka suaramu.

mas kau panggil aku. Aku memang gendut, tapi aku suka gendut. Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan ujar Rendra mesra, kau pun begtu gadisku. Aku begitu kagum pada dawai suara yang rentak keluar dari bibir mungilmu. Dan suara itu yang kadang membuatku mabuk kepayang. Dan aku rela mati dalam tebasan suaramu di riuh rendah Valhala, menunggu kedatangan kurir Valkyrie! Suaramu adalah rindu yang ditahan waktu pada saat permulaan masa. Dan yakinlah duhai gadisku, derai angin dari rumahmu tak akan mampu merengkuh indah khalam suaramu.

Hingga kau kusakiti…

Zuhud dalam keterbatasan membuatku mudah cemburu, sinis, peka, kejam, paranoid, pesimis, posesif, fanatis, banal, scizophrenic dan jahil. Hanya pada pengetahuan yang setengah aku berani bergaya. Aku cemburu atas semua kelebihanmu, kemandiranmu, pesonamu, kebaikan hatimu, perangaimu, olah lakumu, bahasamu, suaramu, wajahmu, sikapmu, marahmu, cemberutmu, tawamu dan yang paling utama, bakatmu untuk dicintai.

Aku menyayangimu dengan cara yang bodoh

Kuakui itu, aku adalah pria bodoh yang menukar emas dengan seonggok batu murah. Aku rela menukar keberadaanmu demi sekerat ego. Aku dan egoku yang setolol Duryudana! Aku mulai menyakitimu dengan perbuatanku. Kata-kata yang keluar tanpa tendeng aling-aling. Kata-kata rusuh yang muncul dari pikiran primitif. Sikapku yang tidak jelas dan perangaiku yang buruk. Akulah Caligula, manusia yang gila karena kehilangan cinta. Tapi itu tak memberikan pembenaran atas sikapku yang bodoh dan tingkahku yang suka lepas kontrol. Aku hanya tak tahu cara menyayangimu, nafsu memiliki yang membuncah serupa api yang membakar nalarku. Saat ku tahu kau dekat dengan seorang pria. Kecemburuan itu datang perlahan, menyusup perlahan dan membakar bara dalam hatiku. Aku cemburu dan aku bodoh! Sungguh.

Keangkuhan yang luntur

Pada malam-malam suci dimana sebuah kitab umat di turunkan aku bergumam. “sedang apa kau? Sudahkah kau bahagia? Apakah kau mendapat jawab atas doa-doamu?”. Hanya angkuh ruang dan dengki yang menahanku untuk lari berontak melihatmu. Untuk memastikan kau tersenyum dan baik-baik saja. Tapi apa daya, rupanya sayangku padamu masih kalah oleh ego. Aku menangisi keputusanmu, keputusanmu untuk menerima pria lain untuk membahagiakanmu. aku tahu itu dari seorang kawan yang juga kawanmu. Betapa sakit jiwaku, rasanya seperti dicabik perlahan-lahan. Sakit dan perih. Aku menahan sakit yang tak kunjung padam, hidupku linglung, hatiku luka, mataku sayu, semangatku padam dan segala rupa keromantisan novel remaja seakan mengejek. Aku tahu ini salahku sendiri dan aku pun paham luka ini mesti aku sendiri yang mengakhiri. Luka ini akan berhenti perih jika aku berhenti mengingatmu.

Kisah ini punya akhir.

Ya, aku selalu percaya kisah yang baik harus punya akhir. Bukan berarti Happy Ending ala Disney. Karena Lemony Snicket dan Solzhenitsyn mengajarkanku untuk tak berharap pada akhir bahagia-namun tetap- kepalaku yang keras, ogah belajar dari kitab-kitab. Sehingga kemudian aku bertanya “Bagaimana cara mencintai angin yang menolak tunduk dan hanya hendak berhembus tunggang langgang tanpa sekat? Bukankah kau serupa udara? Tak mau di ikat dan terbang bebas. Dan semakin mengingat aku semakin luka. Ah entahlah biar luka ini aku yang tanggung, aku memang menutup mata, kau tau? Karena ku pikir kau tak akan kehilangan aku. Ya, kau dan temanmu yang banyak, hidupmu yang riuh, dan cintamu yang luas. Kau tak akan kehilangan aku. Aku si besar buruk rupa dalam kisah karya Victor Hugo. Yang hanya bisa mencintai dengan jalan yang paling sunyi.

Ini mungkin akan menyakitkan..

Aku tahu, ini menyakitkan. Tapi obat yang baik selalu pahit. Ingatan tentang mu datang serupa banjir bandang, yang wussshhh wussshhh datang tanpa mampu dihentikan. Tapi sebelum peri-peri yang baik membuang semua ingatanmu ke dalam botol, aku tetap mau berkisah. Kisah tentang ingatan kamu. Mungkin kau lupa, tapi aku selalu ingat. Dan semoga kita tetap bisa berkisah sayangku

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: