Skip navigation

Hatimu, ialah bianglala. 
Pada pasar malam pertama bulan paling terang kau biasa berputar.
Cahayanya merah, kuning, sesekali biru.
Tiang-tiang kurus dari baja pilihan anti karat.
Kursi dari kayu cendana.
Tiap mengendarai, olehnya aku lupa cara menangis.
Maka perlahan gugur kesedihanku, layak buih sabun dibasuh air.

Hatimu bianglala paling cerah.
Riang gembira kanak-kanak bermain di teras hatimu.
Gulali dan permen jadi among tamu.
Rindu rupa tiketnya, gelak tawa jadi jaminannya. 

Lantas pada tiap putaran kau ajari cara tersenyum.
Diabadikannya riuh jiwa.
Hatimu terlalu ramah untuk abadikan amarah.
Pada setiap hati yang hancur, demikian bianglalamu tawarkan pelukan dan teh hangat.

Aku sekarat!
Bianglalamu terlalu dipenuhi kecemasan orang.
Sementara kau biarkan hatimu, bianglala, perlahan keropos dari dalam.
Apa kau akan terus berpura-pura kuat?
Berpura-pura menjadi karang tegar, lalu dengan terus menerus kau bahagiakan orang lain? 

Hatimu butuh diurus!
Petugas bianglala yang cakap pula tegas.
Yang tak hanya sekadar paham kapan harus memberi jeda dan kapan harus memperbaiki kerusakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: