Skip navigation

Waktu itu gw sedang berkunjung ke Bandung untuk beberapa urusan , salah satunya mengunjungi nikahan temen gw, setelah acara selesai gw pun pulang, sebelumnya mampir ke ITB dulu karena harus ada yang dikerjakan. Gw waktu itu pulang dengan salah satu travel di DipatiUkur, sewaktu gw nunggu travel itu, gw dihampiri oleh seorang bapak yang berumur 50 tahunan, ia menyapa gw dengan hangat.

Setelah kami berkenalan kita pun mengobrol sembari ngerokok dan ditemani kopi hitam yang hangat, awal-awal gw pun agak canggung mengobrol dengannya, sampai akhirnya ia pun berkata, “santai aja mas, saya walau pun udah tua masih gaul kok”…waaah dalem hati gw, bapak-bapak racing nih…hehehehe

Kami ngobrol banyak sembari menunggu angkutan travel itu berangkat. Dari A-Z kami bahas, taunya bapak tua itu dulu yang membuka topik obrolan kami, ia menanyakan,” hobi main motor mas?”, saya pun menjawab” gak terlalu pak, tapi ada satu supermoto yang saya punya sekarang” ia pun menjawab, “waaah jantan masnya ini”, saya pun tersenyum.

Setelah ngobrol panjang tentang supermoto, taunya ia dulu penghobi motor-motor besar, ia menyebutkan dulu pernah mempunyai BSA, Trumph, Harley. Tapi ia mengatakan sekarang itu hanya kenangan, karena sewaktu ia menikah, dia tidak enak kepada mertuanya, karena takutnya mertuanya itu akan berpandangan bahwa ia lebih memperhatikan hobinya, daripada anak istrinya.

Ia bercerita, ia dulu sampai 2 tahun untuk membangun motor harleynya, sehingga waktu ia menikah ia sebetulnya sangat berat untuk menjualnya. Tapi ia sadar kalau pun nanti ia tidak menjual motor-motornya itu, ia akan terus menghamburkan duit untuk hobinya, ia mengatakan itu adalah keputusan terbaiknya karena menjual kepada orang yang tepat, karena sahabatnya sendiri yang membelinya.

Ia pun berkata sambil memberi wejangan ke gw, “mas-kan belum nikah, dari pada duitnya dibuat yang enggak-nggak, apalagi dibuat maksiat, lebih baik kita dari muda mempunyai hobi yang positif, karena itu membantu psikologis kita, agar kita lebih bisa memaintance perilaku kita, dan syukur-syukur kita dapat silaturahmi dengan orang banyak”.

Setelah cerita motor itu kami pun lanjut mengobrol dengan asyiknya, ia mengatakan sebetulnya ia tidak betah kalau tidak punya hobi, ia menceritakan setelah berkeluarga dan anak-anaknya cukup besar, ia pun sekarang mempunyai hobi mengkoleksi barang antik.

Bukan barang antik yang mahal-mahal yang ia punya, tetapi barang yang sudah tidak nyala seperti gramophone, kipas angin GE yang kipasnya dari bahan kuningan, radio tua dan masih banyak lagi.

Walaupun ia sudah cukup tua, bapak itu mengatakan ia masih sering berkunjung ke pasar-pasar kaki lima yang menjual barang bekas, seperti bawah jembatan kebayoran, jembatan item, kemayoran, dan bogor.

Ada kisah menarik waktu ia hunting barang loakan (bahasanya dia), saat itu ia melihat radio tua yang dipajang dan sudah berdebu, setelah tawar menawar dan cocok harganya ia pun membelinya, sembari nanti sampai rumah ia betulkan yang rusak-rusak, maklum lulusan elektro….hehehehee,singkat cerita saat diperjalanan ia didekati orang, orang itu bertanya “radio dari mana pak?”, ia pun menjawab” baru beli mas tadi,” mas-mas itu pun tertarik membelinya tetapi karena ia baru dapat dan menurutnya radio itu susah didapat ia pun tidak memberikan kepada orang itu, selain itu radio itu pun dalam keadaan rusak, ia tidak tega juga menjualnya padahal mas-mas tadi menawar dengan harga yang cukup menggiurkan.

Di lain situasi, ia menceritakan, waktu itu sedang hunting barang lagi, ketemu lah televise tua 14 inchi hitam-putih, ia memandangi terus dengan serius katanya, ia mentaksir harga televise itu 150 ribu, karena pasarannya memang segitu tetapi penjual itu tidak mau melepas barang itu karena maharnya kurang dari 350 ribu, sehingga ia mengurungkan niat membeli barang itu.

Ia memiliki pedoman” saat mencari dan barang itu srek atau pas di hati kita, tetapi tidak cocok dengan maharnya jangan dipaksakan, datanglah di lain waktu, kalau sewaktu kita berkunjung lagi barangnya sudah tidak ada, maka itu bukan jodoh kita” ia pun berkata seperti itu.

Karena menurutnya bukan nafsu kita yang didepankan kalau kita hobi dalam sesuatu,tapi pikiran jernih kita yang harus kita terdepankan.

Sesampai dirumah, gw sangat bersyukur ditemukan oleh bapak ini, karena banyak kata-kata yang tersirat yang sebetulnya sangat dalam tafsirannya…haiyah…hehehehe

Apalagi yang paling terakhir itu daleeeeeeeeem bener maknanya….gw agak percaya gak percaya waktu ia ngomong begitu. Padahal,  ia pun berceritanya sambil cengar-cengir dan menyeruput kopi hitamnya, dan gw sendiri terdiam sejenak, sambil bercermin di kondisi gw yang sekarang ini….hahahahahaha…sepik baget…tapi ini serius men.

Mungkin dia salah satu utusan tuhan yang harus bertemu gw di waktu yang hanya sejam kami mengobrol, gw juga banyak mendengarkan wejangannya….dan sampai lah kami pada perpisahan, dan ia pun menepuk bahu gw, dan berkata” semoga kita di Jakarta ketemu lagi yaa mas, dan ngopi pait lagi”…..

Akhirnya kami pun berpisah dan ia pun pulang kerumahnya dan gw pun pulang dengan cerita dia…terimaksih pak surya..

God Bless you…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: