Skip navigation

Dosen: Gun-Gun Heryanto

Mata Kuliah: Komunikasi Politik

Dalam “Pengantar” Politik Editorial Media Indonesia (2003), Secara sosiologis, keberadaan media liberal membuktikan bahwa masyarakat kita sekarang sedang digiring oleh kekuatan kapitalisme global untuk bertransformasi menuju masyarakat sekuler yang liberal, sebagaimana masyarakat Barat. Dalam tinjauan teori sosiologi komunikasi massa, tayangan-tayangan TV yang liberal tersebut adalah suatu “diskusi publik” agar nilai kebebasan (freedom, liberty) mengisi ruang publik (public sphere), kemudian menjadi opini umum (public opinion), dan selanjutnya berproses menjadi shared values, yaitu acuan nilai kultural yang disepakati bersama.

Skandal media di Negara tiga singa ini menggegerkan dalam  media massa dunia, kenapa tidak? Penyadapan ini dilakukan oleh taipan media rupet Murdock. Murdock sendiri meminta maaf di berbagai media inggris tentang kebocoran hal ini termasuk diedisi terakhir “News Of the world” dengan tulisan “thank you and Goodbey”, media tertua ini yang berusia 168 tahun telah ditutup. mungkin hal penyadapan ini tidak etis dilakukan oleh para pemilik media untuk mencari informasi yang aktual dengan cara penyadapan, dalam sisi kebebasan pers, perilaku seperti ini sangat melanggar privasi seseorang dalam melakukan hak-haknya berkomunikasi. Apalagi yang disadap adalah perdana menteri inggris dan keluarga kerajaan inggris dan masih lebih daari 4000 sadapan di seluruh inggris. Banyak orang yang harus dikorbankan dalam kejadian ini lebih dari 200 pegawai “news of the world” tidak memiliki pekerjaan karena kantor beritanya ditutup.

Pada Pertemuan American Society of Newspaper Editor di Washington, seperti dikutip The Economist edisi 22 April 2006 dalam survei media berita terbarunya, “Pembaca muda tidak ingin bersandar pada figur dewa yang turun dari langit untuk mengatakan kepada mereka mengenai hal-hal penting. Meminjam analogi agama, mereka tidak ingin berita disajikan seperti ajaran,”. Bagi kalangan pebisnis media, apa yang dilontarkan Murdock itu tidak lain sebagai isyarat bahwa ia akan terjun ke era digital. Pria kelahiran Australia ini tidak cukup puas dengan hanya membangun imperium koran, radio, dan televisi konvensional semata. Ia ingin menyulap internet menjadi tambang emas barunya. Para pakar komunikasi sepakat, Murdock cukup luwes mengikuti perkembangan zaman, pun saat zaman memasuki era digital. Tetapi rencana melebarkan sayap melalui era digital, Murdock tidak terlalu mulus karena skandal penyadapannya di Inggris.

Penyadapan ini telah dilakukannya sejak tahun 2004, Dalam hal ini perilaku yang dilakukan oleh mudock tidak ada bedanya dengan yang dilakukan  oleh Julian assange yang menghack berbagai web rahasia yang dimiliki oleh Negara-negara besar, pesan-pesan kawat yang dikirim berbagai kedutaan negara pun yang sangat rahasia dia publish di webnya yang bernama Wikileaks, tetapi disini Julian assange telah menerima hukuman penjara dan ada beberapa kasus yang sama yang memberi hukuman penjara pada editor dan jurnalis seperti: pada Agustus 2006 Glenn Mulcaire ditangkap polisi kedapatan bukti penyadapan, Clive  Goodman dipenjara 2007 untuk hukuman menyadapan  mobile phones  tiga staff Kerajaan Inggris, Neville Thurlbeck dan  Ian Edmondson ditangkap 2011. Rupert Murdock pun dalam berbagai kesempatan sangat menyesal dalam melakukan hal penyadapan ini.

Setidaknya banyak orang-orang peting di inggris yang terekam telponnya oleh Murdock, sebetulnya hanya penegak hukum saja yang bisa menyadap telpon seseorang, tetapi itu pun melalui prosedur yang  telah ditentukan sebelumnya. Dari sisi jurnalistik hal ini  bisa saja terjadi apabila seseorang atau para petinggi media ingin melakukan investigasi yang lebih mendalam, tetapi itu akan melanggar hak privasi seseorang, apalagi sampai menjadi konsumsi public. praktek-praktek seperti ini muungkin memiliki dampak yang sangat penting bagi kehidupan ber media massa di seluruh dunia, karena akan menjadi pelajaran bagi para pemilik media bagaimana kebebasan media tidak menjadi alasan atau benteng untuk meninvestigasi sebuah kasus.

Sekarang Rupert Murdock sedang menghadapi persidangan di Australia dalam hal yang sama. Dalam hal ini pemilik media sangat bertanggung jawab atas semua kebijakan media yang mereka pimpin, mereka harus mempertanggung jawabkan semua perilaku mereka dihadapan hukum.   Tetapi perilaku  ini bagaikan sisi mata koin yang tidak bisa dilepaskan, karena ini mungkin saja strategi marketing yang dilakukan oleh Murdock untuk mengangkat  penjualan opalah media yang dia pimpin, dia sendiri sekarang lagi mengamanakan news corp yang menaungi media-media seperti “News Of the world”. Takhanyal lagi induk media Murdock news corp sahamnya terjun bebas di bursa saham new York dan Australia, penurunan saham ini sangat cepat karena terjadi setelah dua minggu kasus penyadapan itu terkuak, sehingga Investor menjadi semakin gelisah dan pemegang saham di BSkyB, yang dimiliki oleh News Corp, diyakini siap untuk menggulingkan ketua James Murdoch, yang juga akan disidang anggota parlemen bersama mantan CEO News International Rebekah Brooks.

Sekarang ini perdana menteri inggris pun ikut diperiksa kongres untuk mempertanggung jawabkan mengapa penyadapan ini bisa terjadi, karena orang terdekat Murdock adalah bekas penasihat perdana menteri inggris yang sekarang dan detektif polisi Scotland Yard yang diduga ikut membantu penyadapan tersebut. Sementara pembongkaran kasus makin gencar, nasib Rupert Murdoch dan anak buahnya, serta PM David Cameron, masih sulit diprediksi mengingat kemarahan publik tak bisa dibendung seirama dengan terkuaknya bukti-bukti baru. Penangkapan tersangka-tersangka baru dikabarkan akan segera terjadi.

Inilah tamparan yang harus diterima oleh sang taipan media Rupert Murdock dalam skandal penyadapan telepon yang memakan korban hampir 4000 telepon. Mungkin ini adalah bentuk dari kebebasan pers yang kebabalasan atau mungkin ini termasuk jurnalisme investigasi yang memang harus dilakukan oleh setiap media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: