Skip navigation

Pendahuluan

Penciptaan manusia itu sengaja dilebihkan tuhan dari penciptaan terhadap mahluk-mahluk lain. Kelebihan itu terletak pada akal, yang agaknya mahluk-mahluk lain tidak ada yang dikaruniai akal selengkap mahluk  manusia. Berkat akalnyalah manusia bisa terbang membumbung tinggi diangkasa, lebih pandai dari elang dan jenis burung lainnya. Berkat akalnyalah manusia bisa masuk kedalam bumi , lebih pintar dari jenis binatang melata manapun. Dan berkat akalnya pulalah mereka bisa berenang dan menyelam dalam air, lebih mahir dari ikan dan segala jenis binatang lautan.

Didalam islam akal inilah yang dijadikan ukuran taklif. Artinya terhadap orang yang akalnya tidak normal, islam mengecualikannya dari tuntutan syariat agama. Dalam segi akal, atau disebut rational approach. Berapa banyak ayat-ayat Al-Quran yang bersifatmengugah akal. Berapa banyak ayat-ayat alquran yang setelah mengajukan suatu problema kemudian diakhiri denagn kata-kata “Afala tatafakkaruun, Afala tatadabbaruun, Afala ta’qiluun” dan sebagainya. Dan berapa banyak hadits-hadits nabi ysng intinya menganjurkan kaum muslim untuk memperkembangkan akal dan menuntut ilmu pengetahuan. Ini menunjukan berapa tingginya martabat akal dan ilmu pengetahuan dalam pandangan islam.

pembahasan

A.Materi dakwah

Jika bicara tentang dakwah, kita ingat kembali apa tujuan dakwah, karena pada dasarnya apa yang terdapat dalam materi dakwah bergantung pada tujuan dakwah yang yang ingin dicapai.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Quran, bahwa: “Tujuan umum dakwah adalah mengajak ummat manusia ( meliputi orang mukmin maupun kafir atau musyrik ) kepada jalan yang benar yang diridhai  Allah SWT, agar dapat hidup bahagia dan sejahtera didunia maupun diakhirat”.[1]

Apa yang disampaikan  seorang da’i dalam proses dakwah (nilai-nilai dan ajaran-ajaran islam) untuk mengajak ummat manusia kepada jalan yang diridhai Allah, serta mengubah perilaku mad’u agar mau menerima ajaran-ajaran islam serta memanifestasikannya, agar mendapat kebaikan dunia akhirat, itulah yang disebut materi dakwah.

Dalam garis besarnya, sebenarnya telah jelas, bahwa materi dakwah adalah seluruh anjuran islam secara tidak dipotong potong. Ajaran islam telah tertuang dalam : alqurannul karim dan sunnatur rasul Muhammad saw, sedang pengembangannya kemudian akan mencakup seluruh kultur islam yang murni yang bersumber dari kedua sumber pokok ajaran islam itu.

Materi yang demikian luas sudah tentu memerlukan pemilihan yang cermat, disamping perlunya diperhatikan situasi dan kondisi kemasyarakatan yang ada. Apabila kehidupan manusia ini akan selalu dihadapkan dengan kepentingan, maka dalam hal ini manusia tidak lain akan dipaksa untuk mengadakan pilihan-pilihan tindakannya. Bahkan kemudian manusia membuat prioritas-prioritas karena dari sekian banyak perbaikan yang telah dipilihnya itu, tidak semuanya dapat dikerjakan sekaligus, namun harus satu demi satu atau menurut kepentingannya yang paling utama dan yang dapat dikemudiankan. Untuk ini ajaran islam cukup luas memberikan bahannya dari sumber utama tadi.

C.Problematika Masyarakat dan Dakwah Islam

Seperti yang telah kita ketahui, pada intinya, masyarakat merupakan kesatuan yang terdiri dari beberapa individu, yang hidup dan tinggal di suatu wilayah atau daerah tertentu dan memiliki tujuan bersama.

Tidak dapat dipungkiri, berbagai macam individu didalamnya, menjadikan berbagai permasalahan dan problematika bisa saja terjadi. Terlebih jika dalam masyarakat, terbagi kedalam beberapa bentuk, namun hal ini tidak akan dikupas tuntas. Pembahasan akan lebih menitik beratkan pada problematika masyarakat yang terjadi saat ini.

Pengertian

Materi dakwah

seperti yang sudah dijabarkan diatas dalam hal ini materi dakwah menurut tarmizi taher materi (maddah) dakwah adalah masalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’I pada mad’u, pada dasarnya bersumber pada Al-Quran dan Hadits sebagai sumber yang meliputi akidah, syariah, dan ahlak. Hal ini yang perlu disadari bahwa ajaran ajaran yang diajarakan itu bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah SWT, namun bagaimana menumbuhkan kesadaranmendalam agar mampu memanifestasikan akidah, syariah dan ahlak dalam ucapan, pikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Problematika masyarakat

Disni yang dimaksud dengan problematika masyarakat adalah kesulitan-kesulitan atau permasalahan yang berkembang dalam masyarakat itu sendiri yang dimana dikarenakan perkembangan zaman yang semakin maju dan lebih kritisnya para mad’u di masyarakat pada zaman sekarang. Hal-hal yang muncul adalah seperti: masalah ide pembaharuan, masalah moral dan masalah tentang perkembangan teknologi yang semakin pesat pada saat ini.

analisis

Secara global, materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal, yang pada dasarnya ketiganya bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Tiga hal itu adalah :

  1. Aqidah

Dalam islam, permasalahan aqidah yaitu masalah-masalah yang mencakup keyakinan yang erat hubungannya dengan rukun iman. Dalam pembahasanya, bukan saja tertuju pada hal-hal yang wajib diimani, akan tetapi materi dakwahnya juga menyangkut masalah-masalah yang menjadi lawannya. Seperti syirik, ingkar terhadap keberadaan tuhan, dll

  1. Syar’iyah

Dalam islam, permasalahan syar’iyah erat kaitannya dengan perbuatan nyata dalam mentaati semua peraturan/hokum Allah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya serta mengatur pergaulan hidup antar sesame manusia.

Permasalahan yang berhubungan dengan masalah syar’iyah bukan saja terbatas pada masaalah ibadah kepada Allah, namun permasalahannya juga mencakup pada masalah yang berkenaan dengan pergaulan hidup antar sesame manusia seperti masalah hokum jual-beli, berumahtangga, warisan, dan lainnya, begitu juga dengan segala bentuk larangan Allah, seperti mabuk, mencuri, berzina, dan sebagainya. Hal itu juga termasuk masalah yang menjadi materi dakwah.

  1. Akhlak

Sebagai materi dakwah, akhlak lebih tepat dikatakan pelengkap bagi keimanan dan keislaman seseorang. Namun bukan berarti masalah akhlak tidak penting, karena bagaimana pun juga, iman dan islam seseorang tidak akan sempurna tanpa dibarengi dengan perwujudan akhlakul karimah.

Rasullulah pun pernah bersabda :

“Aku diutus oleh Allah SWT didunia ini hanyalah untuk menyempurnakan Akhlak”.

Dalam buku yang berjudul Dakwah Aktual, mengatakan: Sirah Nabawiyah mengajarkan kepada kita, bahwa materi pertama yang menjadi landasan utama ajaran islam, yang disampaikan Rasullulah SAW kepada ummat manusia adalah masalah yang berkaitan dengan pembinaan akidah salimah, keimanan yang benar, masalah al-insan, tujuan program, status, dan tugas hidup manusia didunia, dan tujuan akhir yang dicapainya, al-musawah, persamaan manusia dihadapan Allah SWT, dan al-adalah, keadilan yang harus ditegakan oleh seluruh manusia dalam menata kehidupanya.[2]

Hal penting yang harus disadari yaitu, semua ajaran yang disampaikan itu (materi dakwah), bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah SWT, akan tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran mendalam, agar mampu mewujudkan atau memanifestasikan aqidah, syar’iyah, dan akhlak dalam ucapan, pikiran, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari

 

 

B.Sumber-sumber Materi Dakwah

Materi dakwah yang telah dirinci sebelumnya, pada dasarnya bersumber kepada:

  1. Al-Quran dan Hadits

Al-Quran dan Hadits merupakan pedoman dan sumber hukum serta sumber utama ajaran-ajaran islam bagi ummat islam. Oleh karena, materi dakwah yang pada intinya menyampaikan ajaran-ajaran islam tidak mungkin terlepas dari dua sumber tersebut, jika seluruh aktivitas dakwah tidak berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadits, maka hal itu akan menjadi sia-sia dan bahkan dilarang oleh islam

  1. Opini Ulama

Islam selalu menganjurkan ummatnya untuk terus mencari dan menggali (pengetahuan ) dengan cara berpikir dan berijtihad untuk menemukan hokum-hukum sebagai tafsiran serta takwil dari Al-Quran dan Hadits.

Sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama, dari hasil pemikiran dan penelitian dari ulama itulah dapat pula dijadikan sebagai sumber baru setelah Al-Quran dan Hadits artinya, hal baru yang tidak bertentang dengan Al-Quran dan Hadits dapat juga dijadikan sebagai sumber materi dakwah.

C.Problematika Masyarakat dan Dakwah Islam

Seperti yang telah kita ketahui, pada intinya, masyarakat merupakan kesatuan yang terdiri dari beberapa individu, yang hidup dan tinggal di suatu wilayah atau daerah tertentu dan memiliki tujuan bersama.

Tidak dapat dipungkiri, berbagai macam individu didalamnya, menjadikan berbagai permasalahan dan problematika bisa saja terjadi. Terlebih jika dalam masyarakat, terbagi kedalam beberapa bentuk, namun hal ini tidak akan dikupas tuntas. Pembahasan akan lebih menitik beratkan pada problematika masyarakat yang terjadi saat ini.

Pada hakikatnya, dakwah islam melalui pesan yang disampaikan, merupakan aktualisasi imani yang diwujudkan dalam suatu system kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan manusia secara teratur agar cara berfikir, bersikap, dan merasa dapat dipengaruhi dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam segala segi kehidupan.

Dakwah islam senantiasa bergelut dengan segala realitas yang mengitarinya, yaitu permasalahan maupun perubahan yang terjadi pada masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di Negara Indonesiaterus berlangsung. Sampai saat ini, masalah dalam masyarakat yang harus dihadapi dakwah islam semakin kompleks, mulai dari berbagai masalah sosial, keagamaan, politik, ekonomi, hingga pendidikan.

Aktualisasi system dakwah selalu diiringi dengan serangkaian masalah yang komplek. Pertama, ketika dakwah islam disampaikan dalam lingkungan masyarakat yang belum islam, pesan ( ajaran-ajaran islam) oleh masyarakat setempat dinilai asing dan dianggap pendatang. Kedua, bahwa pemilikan islam sebagai hasil kegiatan dakwah berjalan secara lambat atau malah sebaliknya. Ketiga, ketika perubahan sosisal-budaya semakin kompleks, dakwah islam dihadapkan dengan keharusan memberikan jawaban jelas yangf menyangkut kepentingan manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

Masyarakat sebagai mad’u, selalu mengalami dinamika perubahan yang dapat menimbulkan dampak sosial maupun fisik. Dalam hal ini, pesan dakwahlah yang mengarahkan perubahan. Mengubah stuktur masyarakat dan budaya dari kedzaliman menjadi bentuk keadilan, kebodohan menuju kecerdasan/kemajuan, kemiskinan kearah kesejahteraan/kemakmuran, keterbelakangan kearah menuju kemajuan : sejarah membuktikan, kehadiran islam, terlebih pada masa rosul, dakwah mampu menggerakan dan mengarahkan sosial-budaya ( masyarakat) secara mendasar sesuai dengan tingkat peradaban dan masalah yang terjadi saat itu. Kenyataan perubahan sosial yang terjadi belakangan ini sangat berbeda dengan perubahan yang pernah dilakukan rosul. Saat ini, perubahan diawali oleh kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi. Penerapan ilmu dan teknologi telah menjadi penggerak perubahan yang dilatrbelakangi oleh keinginan kebutuhan material. Aspek spiritual dan religious tidak menjadi ukuran untuk menentukan pembangunan suatu bangsa. Sehingga pertumbuhan ekonomi nyaris menjadi ideology yang menenyukan semua perilaku masyarakat.[3]

Ilmu pengetahuan yang bertujuan mencari kebenaran dan menciptakan kesejateraan bagi masyarakat, justru masih belum mampu menciptakan keadilan, bahkan semakin membentuk individualime, materialism, dan ketamakan yang membahayakan tat kemanusian. Contoh dalam bidang ekonomi, kesenjangan antara masyarakat kaya dan yang miskin semakin dalam karena ilmu ekonomi masih melahirkan keinginan tak terbatas manusia dalam memenuhi kebutuhan di satu pihak.

Perubahan sosial mengandung sejumlah konsekuensi perubahan sikap dan keadaan psikologis masing-masing individu, keluarga, dan masyarakat sebagai sasaran dakwah dalam menerima materi dakwah ( ajaran islam ). Masyarakat yang terlibat untuk bekerja di sector industry mengakibatkan tidak memiliki waktu luang. Hingga mengakibatkan semakin longgarnya ikatan keluarga karena mobilitas vertical anggota keluarganya.

Perubahan tatanan masyarakat, mulai diragukannya tat nilai lama dan masalah yang semakin kompleks yang dihadapi masyarakat, menimbulkan masalah tidak adanya hokum yang pasti dalam melindungi hak asasi manusia. Dalam perubahan masyarakat saat ini, penegakan rule of law lebih banyak sebagai tumpukan harapan daripada perwujudannya. Tugas dakwah islam disini sebagai penegak kepastian hokum dari ketidakpastian hokum asasi ini.

Saat ini juga masih banyak penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dakiwah islam menghadapi masalah nyata, yaitu membebaskan kemiskinan. Kenyataan menunjukan, adanya masyarakat yang secara rela ataupun terpaksa mengorbankan akidah, ahlak, ataupun kehormatannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena pada dasarnya, jika basic need tidak dapat dipenuhi, maka sangat mudah bagi seseorang dipengaruhi oleh mereka yang mampu memenuhinya. Sudah pasti, kesempatan ini dimanfaatkan oleh kelompok nasrani lewat nproses pengkristenisasi. Empat jalan yang dilalui kelompok nasrani dalam propagandanya. Pertama, jalur ekonomi, yaitu dengan pemanfaatan keadaan fakir seseorang. Kedua, jalur pendidikan. Ketiga, jalur pelayanan masyarakat. Keempat, jalur politik.

 

 

 

 

 

 

 

Nampaknya, hal yang menjadi garapan utama para pengembang dakwah saat ini adalah pembentukan dan pembinaan akidah salimah diiringi dengan penangan kebutuhan primer secara serius. Yang semuanya melalui pesan/ materi dakwah yang disampaikan kepada masyarakat. Hanya saja, dengan melihat perubahan sosial serta problematika yang semakin komkpleks, swaat ini penyampaian materi dakwah ( ajaran-ajaran islam ) tidak cukup hanya dengan proses ceramah yang yang sering dilakukan dalam kegiatan pengajian-pengajian, tetapi juga butuh adanya campur tangan atau keterlibatan institusi atau lembaga-lembaga dakwah yang menampakan adanya usaha untuk membebaskan ummat dari ketergantungan kepada pihak lain, dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan bidang lainya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran  mendalam. Sebagaimana hamba allah, yang akhirnya memiliki kepribadian kuat, sehingga sifat ketergantungan menjadi bisaa diatasi.

D.kesimpulan

Setelah membahas tentang materi dan peroblematika masyarakat, kami dapat menyimpulkan bahwa, dalam proses dakwah yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u pada intinya merupakan proses penyampaian nilai atau ajaran-ajaran islam, yang bertujuan untuk mengajak manusia pada jalan yang diridhai Allah serta mengubah perilaku mad,u agar dapat menerima ajaran-ajaran islam serta mewujudkannya dalam segala aspek kehidupan. Nilai-nilai atau ajaran islam yang disampaikan, secara umum dapat dibagi kedalam tiga permasalahan, yaitu masalah Aqidah, Syariah, dan Akhlak, yang ketiganya bersumber dari Al-Quran dan Hadits, ataupun dari opini ulama.

Pada saat ini, zaman yang semakin dikendalikan oleh ilmu dan teknologi, juga dimana perubahan sosial semakin sering terjadi, dakwah dituntut untuk menyesuaikan dengan keadaan dan problematika masyarakat saat ini.

Aktualisasi sistem dakwah selalu berhadapan dengan serangkaian masalah yang kompleks. Mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, politik, hukum, dan sebagainya. Tugas dakwah islam mengembalikan segala masalah atau perubahan kearah yang sesuai dengan agama islam. Hanya saja, dengan melihat keadaan saat ini, materi dakwah tidak lagi cukup dilakukan dengan cara ceramah-ceramah diberbagai kegiatan keagamaan. Namun juga butuh institusi atau lembaga yang ikut terlibat dalam menanamkan adanya usaha dalam mengembangkan dakwah dan membebaskan ummat dari ketergantungannya kepada pihak lain.

Daftar Pustaka

  1. Hafidhuddin, Didin, Dakwah Aktual, cet. 3, Jakarta : Gema Insani Press, 2001
  2. Khasanah , Siti Ustwatun, Berdakwah dengan Jalan debat Antara muslim Dan Non Muslim, cet 1, Purwokerto: STAIN Purwokerto Press, 2007
  3. Syukir, Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya : Al-Ikhlas, 1983
  4. Achmad, Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, cet 1, Yogyakarta : Prima Duta, 1983.
  5. Suminto, R.H.A, Problematika Dakwah.
  6. Harjono, Anwar, Dawah dan Masalah social kemasyarakatan, cet 1, Jakarta, 1987.

 


[1] Asmual Syukir, Dasar-dasar strategi dakwah islam, (Surabaya: Al ikhlas, 1983), hlm. 51

[2] Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), cet III, hal. 80

[3] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan sosial, ( Yogyakarta : Prima duta, 1983 ), cet 1, hal. 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: