Skip navigation

Nama : Taufiq Bernadi

Alamat email : bernaditaufiq@yahoo.com

Model Riset Komunikasi

Pendahuluan

Ilmu komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rumpun ilmu-ilmu sosial. Begitupun dalam hal karakeristiknya dan teorisasinya seperti pendekatan objektif, pendekatan konstruktivis, dan pendekatan kritis. Begitupun dengan wilayah lapangan metode riset komunikasi yang tak lain tak bukan adalah bagian dari metode riset sosial pada umumnya.  Perkembangan yang luas dalam ilmu komunikasi yang begitu cepat membuat sebuah terobosan dan macam-macam pendekatan baru dan variabel baru yang ditemukan sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat.  Perkembangan–perkembangan dalam model riset komunikasi sesuai dengan tuntutan akan sebuah formulasi baru dalam ilmu komunikasi baik yang menyangkut aspek ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Perubahan yang terjadi terus menyesuaikan dengan model yang sudah ada baik dikombinasikan dan dimodifikasikan bahkan lintas disiplin seperti model komunikasi agenda setting yang merupakan aplikasi riset komunikasi massa, dalam model ini tidak hanya dibahas persoalan yang berkaitan dengan ranah ilmu komunikasi saja melainkan mungkin juga dapat ditransmisikan ke berbagai pendekatan disiplin ilmu politik dan tentunya ini merupakan sesuatu yang sudah terjadi, terbukti berapa banyak lahir berbagai macam pandangan mengenai pendekatan ekonomi politik media.

Dengan sendirinya metode riset komunikasi semakin dibutuhkan dalam berbagai lapangan kehidupan guna menjawab bermacam-macam sebuah persoalan seperti contoh bagaiamana agar performa sebuah komunikasi organisasi sebuah perusahaan akan lebih dapat ditingkatkan lagi dan ini tentunya membutuhkan sebuah perangkat metodologis dalam menjawabnya.

Lahirnya disiplin ilmu komunikasi tak terlepas dari metode riset komunikasi yang melahirkan sebuah arah baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan.  Berbicara mengenai asal usul ilmu komunikasi kita sudah sepakat bahwa ilmu komunikasi muncul sejak zaman Yunani kuno, dimana Aristoteles membuat model komunikasi atas tiga unsur  yang terdiri atas :

Sumber                         Pesan              Penerima

Model komunikasi Aristoteles belum menempatkan unsur media dalam proses komunikasi ( Hafied Cangara : 2007). Hal ini dapat dimengerti ketika itu medis cetak dan elektronik belum ditemukan namun kala itu  retorika merupakan satu-satunya saluran komunikasi.  Dilihat dari perkembangannya ilmu komunikasi terdiri dari beberapa interval periode. Dan ilmu komunikasi benar-benar secara mantap menjadi sebuah disiplin ilmu disekitar paruh tahun 1960-an, adalah Claude E. Shannon, Norbert Wiener, Harold D. Lasswell, dll sebagai bapak ilmu komunikasi. Lalu apa hubungan dengan topik yang dibahas pada makalah ini, saya pikir metode riset komunikasi tak akan dapat berdiri tanpa perkembangan disiplin ilmu komunikasi dimana para perintis ilmu komunikasi telah meletakkan dasar-dasar bagi metode riset komunikasi.

Metode riset komunikasi memiliki berbagai macam pendekatan diantaranya objektif, konstruktivis, dan kritis. Masing-masing pendekatan ini memiliki perbedaan-perbedaannya diantara satu sama lain. Dan pendekatan-pendekatan dalam metode ilmu komunikasi secara aplikatif mempengaruhi penerima yang disalurkan dari pengirim (source). Saluran-saluran komunikasi ini berdampak bagi khalayak sebagai yang menerima pesan dari hasil komunikasi. Pada pembahasan ini saya akan membahas secara singkat model dalam riset komunikasi yang menjadikan khalayak sebagai bahan analisis riset komunikasi.

 

Pembahasan

Disini saya akan menuraikan secara singkat model riset komunikasi dan aplikasi dari model riset komunikasi yang bagi kalangan ilmuwan maupun pemerhati ilmu komunikasi telah akrab dalam setiap ruang-ruang kuliah dan diskusi mengenai teori komunikasi. Tulisan ini berdasarkan pemahaman saya terhadap model riset komunikasi yang saya baca dari berbagai literatur yang berkenaan dengan disiplin ilmu komunikasi.

Berikut ini saya mengulas tentang model dalam riset komunikasi massa yang saya peroleh dari berbagai sumber bacaan yang saya pahami dalam menelaah model riset komunikasi. Model riset komunikasi begitu banyak jenisnya seperti model SMCR (Source-Message- Channel-Receiver) David K. Berlo, model matematik dalam komunikasi Shannon dan Weaver, model Lasswell, model Schramm, model Osgood, model Simetri newcomb, model Riley &Riley, dll.

Dalam ilmu komunikasi pastinya kita mengenal Harold D. Lasswell seorang teoritisi ilmu politik yang membangun landasan keilmuan dalam ilmu komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu. Ia mengajukan sebuah formulasi dalam teori komunikasi yang termasyur dengan sebutan formula Lasswell. Dalam formulanya Laswell mendesain sebuah pola komunikasi sebagai sebuah model bagi riset komunikasi. Formula Lasswell terdiri dari beberapa unsur yang berhubungan dalam sirkulasi komunikasi.

Unsur –unsur formula Lasswell ialah who says what in which channel to whom with what effect. Formula Lasswell menjelaskan suatu proses komunikasi; “siapa”, ‘mengatakan apa”, “dengan saluran apa”, “kepada siapa”, dan akibatnya apa”. Jadi, formula Lasswell dari komunikator yang membuat pesan dikirim melalui saluran atau medianya disampaikan kepada khalayak atau komunikan dan setelah pesan diterima oleh komunikan hasilnya berdampak seperti apa.

Claude E. Shannon dan Warren Weaver, ilmuwan elekronika dari MIT ini mengembangkan model komunikasi melalui saluran elektronik seperti telepon dan radio dan gangguan (noise) menjadi unsur terpenting dalam model Shannon & Weaver. Menurut mereka gangguan (noise) dapat menyebabkan kegagalan komunikasi.  Oleh karena itu, Shannon &Weaver menyarankan agar gangguan di atasi terlebih dahulu sebelum komunikasi berlangsung.

Dalam model komunikasinya Shannon &Weaver menunjukkan proses terjadinya komunikasi dimulai dari sumber yang menciptakan pesan, kemudian transmit melalui saluran kawat atau gelombang udara. Pesan ditangkap oleh pesawat penerima yang merekonstruksi kembali sinyal itu sampai kepada tujuannya (destination). Tujuan di sini adalah penerima yang menjadi sasaran pesan.

Shannon &Weaver juga memperkenalkan konsep pesan yang terdiri dari  entropy dan redudancy. Redudansi dibutuhkan untuk meningkatkan ketepatan berkomunikasi dan mengatasi gangguan (noise) komunikasi sedangkan entropi adalah ketidakpastian atau ketidakberaturan suatu situasi. Dalam teori informasi, kita menghubungkannya dengan tingkat kebebasan memilih yang dimiliki seseorang dalam membangun sebuah pesan ( Werner J. Severin & James W. Tankard, Jr : 2001).

Model Proses komunikasi Osgood & Schramm dikenal dengan model komunikasi sirkuler. Dalam model ini proses komunikasi dari sumber pesan dan penerima pesan merupakan hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Proses sirkuler antara pengirim dan penerima pesan berlangsung timbal balik  yang berlangsung secara simultan dan terus menerus. Proses komunikasi sirkuler Osgood &Schramm baik pengirim dan penerima sama-sama menjadi sumber komunikasi dan diantara keduanya juga bertindak sebagai Decoder dan Encoder dari sebuah pesan yang di transmisikan.

Kincaid & Everett M. Rogers dalam mengembangkan model komunikasinya bertumpu pada pemusatan dalam proses komunikasi, Kincaid & Rogers melihat komunikasi sebagai proses untuk mencapai kesepahaman (mutual understanding). Dimana komunikasi berlangsung saling menukar informasi dan mencapai pengertian yang sama. pada model ini keterlibatan pelaku komunikasi saling memberikan pemahamannya kepada lainnya yang secara partisipatif mengajak pelaku komunikasi untuk bersama-sama menciptakan suasana dialogis.

Theodore Newcomb merumuskan sebuah model komunikasi yang melihat komunikasi sebagai sesuatu yang simetris dan mempelajari interaksi manusia dalam berkomunikasi. Proses komunikasi ini menghasilkan ketergantungan satu sama lain terhadap pesan yang disampaikan dari pengirim dan penerima.

Didalam modelnya Newcomb melihat keseimbangan (simetri) dalam proses komunikasi. Simetri dibutuhkan untuk meneguhkan pesan kepada penerima agar pesan tersebut diterima dengan dukungan sosial dan psikologis. Misalnya si A mengirim informasi kepada si B tentang sesuatu dan si B sepakat menerima pesan tersebut. Namun model Newcomb berbicara tentang proses komunikasi yang Asimetris, dimana komunikasi menimbulkan ketegangan antara pengirim dan penerima dalam menginterpretasikan pesan. Upaya untuk mengurangi ketegangan ini salah satu pihak mengurangi perbedaan dan tensi komunikasinya sehingga keadaan Asimetris kembali lagi. Dalam model ini bagaimana masing-masing pihak mencapai kata sepakat untuk tidak sepakat dan ini ditempuh untuk mengembalikan keseimbangan dalam berkomunikasi.

Model komunikasi Riley & Riley melihat komunikasi sebagai bentuk proses sosiologis. Dalam menerima pesan penerima (komunikan) tidak langsung bereaksi terhadap pesan yang disampaikan melainkan menilai, dan memahami terlebih dahulu. Dalam model ini faktor-faktor sosiologis sangat mempengaruhi model komunikasi ini dimana dalam menerima pesan komunikan memiliki acuan dan rujukan dari kelompok sosialnya baik kelompok primer (misalnya keluarga) maupun lingkungan sosialnya.

Melvin DeFleur mengembangkan model komunikasi Shannon & Weaver. Dalam rumusannya proses komunikasi melibatkan banyak pihak yang satu sama lainnya mempengaruhi. Model DeFleur ini merupakan proses komunikasi massa. Di dalam modelnya proses komunikasi sangat berlangsung massif terdiri dari source (sumber), transmitter (instrumen pengolah pesan), Channel (salurannya), Receiver (penerima), Destination ( tujuan), noise (gangguan), mass medium devide (perangkat media massa), feedback (perangkat umpan balik).

Dalam model ini kemungkinan distorsi pesan akan lebih besar akibat gangguan komunikasi yang begitu banyak karena informasi (source) yang diperoleh begitu banyak mempengaruhi khalayak. Dalam komunikasi massa model ini sepadan dengan dampak yang diakibatkan oleh komunikasi massa seperti pasifnya massa dalam menerima informasi dari media massa, penggiringan opini yang dikonstruksi oleh media massa, dan berpotensi terjadinya gangguan dalam berkomunikasi.

Robert Axelrod mengembangkan sebuah formulasi model komunikasi yang tentang proses informasi. Pesan berupa informasi tersebut diproses dan diolah oleh penerima informasi dan apakah informasi tersebut cukup penting artinya bagi penerima. Pada model ini penerima mempertanyakan apakah infomrasi tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau apakah inrmasi tersebut benar-benar sesuai dengan pemikirannya. Rumusan model Axelrod ini tertarik untuk mengkaji berita di media massa tentang

Dalam model informasi yang diterima bersifat integratif. Dalam proses integrasi, informasi secara substansial diubah untuk membuatnya pas dengan pengetahuan yang ada. Beberapa aspek dalam berita diturunkan dan yang lain dipertajam. Melalui proses penyandian (encoding) ini, unsur-unsur yang kelihatannya penting bagi yang melihat dipisahkan dari detail yang tidak terlalu penting. Berita selalu kehilangan detail dan menjadi lebih terabstraksi dalam pemprosesannya. Selama pemrosesannya, informasi bisa mengalami perubahan yang akan membuatnya kurang atau lebih akurat. Karena tujuan akhir sebagaian besar pengumpulan informasi adalah menemukan makna, maka signifikansisuatu berita menajdi jelas, dan masuk akallah jika informasi diproses untuk segera mengetahui maknanya (Gebner : 1956 dalam Werner J. Severin & James W. Tankard, Jr : 2001).

Kesimpulan

Dalam hal ini saya akan menyimpulkan beberapa teori-teori komunikasi yang dalam hal ini berhubungan dengan model riset komunikasi, seperi yang telah kita lihat, konsep informasi, yang tidak ada kaitannya dengan makna, benar-benar sangat bermanfaat dalam jalur yang ditempunya. Jika diamati lebih dekat lagi, sebuah konsep informasi yang ditandai dengan ketidakpastian. Jika kita melihat teori-teori model riset komunikasi yang sudah dijabarkan menurut kritearia yang diberikan, teori ini akan memungkinkan orang untuk mengatur, menyusun, dan menghubungkan data dan menunjukan kesamaan dan hubungan yang sebelumnya tidak terlihat

Referensi

Severin, J. Werner & W. Tankard,Jr., James, Teori Komunikasi ;Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Penerbit Prenada Media, 2008

Cangara, hafield, Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Penerbit RajaGrafindo Persada, 2007

Roudhounah, Ilmu Komunikasi.Jakarta:Penerbit UIN Jakarta Press, 2007

Kriyantono, rachmat, Tehnik Praktis; Riset Komunikasi. Jakarta: penerbit Kencana Prenada Media, 2008

Mcquail, Denis, Teori Komunikasi Massa; suatu pengantar. Jakarta : Erlangga, 1996

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: