Skip navigation

Biografi Al-Ghozali

Nama lengkapnya abu hamid Ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali, digelar Hujjah Al-Islam. Ia lahir di Thus, bagian dari kota khurasan, Iran pada 450 H(1056 M). ayahnya tergolong orang yanh hidup sangat sederhana sebagai pemintal benang, tetapi mempunyai semangat keagamaan yang tinggi seperti terlihat pada simpatiknya kepada ulama, dan mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu member i  nasehat kepada umat. Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya, Al-ghazali dan saudaranya, ahmad yang ketika itu masih kecil, kepada seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan didikan dan bimbingan. Diperkirakan Al-ghazali, hidup dalam suasana kesederhanaan sufi tersebut sampai usia 15 tahun (450-465 H).

Ketika sufi yang mengasuh Al-Ghazali dan saudaranya tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya keduannya, ia menganjurkan agar mereka dimasukan ke sekolah untuk memperoleh, selain ilmu pengetahuan, santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu itu. Antara tahun 465-470 H, Al-ghazali belajar fikih dan ilmu-ilmudasar yang lain dari Ahmad al-Radzkani di Thus, dan selama tiga tahun ditempat kelahirannya ini mengkaji ulang pelajarannya di jurjan sambil belajar tasawuf kepada yusuf al-nassaj (w. 487 H). pada tahun 473 H, ia pergi ke naisabur untuk belajar di madrasah Al-Nizhamiyah.  Di sinilah Al-ghazali berkenalan dengan Al-juwaini (w.478/1085 M) sebagai tenaga pengajar. Dari Al-juwaini memperoleh ilmu kalam dan mantiq. Menurut Abd Ghaffar ibn Ismail Al-farisi, Al-ghazali menjadi pembahas yang paling pintar dizamannya, dan minimbulkan rasa iri hati Imam al-Haramain kepadanya, tetapi hal itu disembunyikan.

Pada tahun 488 h (1095 M) Al-Ghazali dilanda keragu-raguan, skeptic, terhadap ilmu-ilmu yang dipelajari (hukum, teologi, dan filsafat), kegunaan pekerjaannya, dan karya-karya yang dihasilkan , sehingga ia menderita penyakit selama dua bulan, dan susah diobati. Karena itu, Al-ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah Nizhamiyah. Akhirnya ia meninggalkan Baghdad menuju kota damaskus. Selama kira-kira dua tahun Al-Ghazali di kota ini, ia melakukan uzlah, riyadhah, dan mujahadah. Kemudian ia pindah ke bait al-maqdis, palestina untuk melaksanakan ibadah serupa, setelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarah maqam rasulullah. Sepulang dari tanah suci, Al-Ghazali mengunjungi kota kelahirannya, Thus; di sini pun ia tetap berkhalwat. Keadaan skeptic Al-Ghazaliberlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah ia menulis karyannya yang terbesar Ihya’ ‘ulum al-din (the Revival of the religious scienes—menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama).

Karena desakan penguasa Saljuk. Al-Ghazali mengajar kembali pada madrasah nizhamiyah di Naisibur, tetapi hanya berlangsung selama dua tahun, kemudian ia kembali ke thus untuk mendirikan madrasah bagi para fuqaha, dan sebuah zawiyah atau khanaqah untuk para mutasawwifin. Di kota inilah ia wafat pada 505 H(111 M).

Filsafatnya

A.Epitimologi

Sebagaimana dijelaskan Al-Ghazali dalam bukunya Al-Munqidz min al-Dhalal, ia mencari kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran yang sejati, yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, seperti kebenaran sepuluh lebih banyak dari tiga. “sekiranya adanya orang yang mengatakan bahwa tiga itu lebih banyak dari sepuluh dengan argument bahwa tongkat dapat ia jadikan ular, dan hal itu memang betul ia laksanakan, saya akan kagum melihat kemampuannya, sunguhpun demikian keyakinan saya bahwa sepuluh lebih banyak dari tiga tidak akan goyah”. Seperti inilah menurut Al-Ghazali pengetahuan yang sebenarnya.

Pada mulanya al-Ghazali beranggapan bahwa pengetahuan itu adalah hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indera. Tetapi, kemudian ternyata baginya bahwa panca indera berdusta. Karena tidak percaya kepada panca indera, Al-Ghazali kemudian meletakan kepercayaan kepada akal. Tetapi, akal juga tak dapat dipercaya sewaktu bermimpi. Tetapi dua bulan kemudian, dengan cara tiba-tiba Tuhan memberikan nur—yang disebut juga oleh Al-Ghazali sebagai kunci ma’rifat –kedalam hatinya, sehingga ia merasa sehat dan dapat menerima kebenaran pengetahuan a priori yang bersifat aksiomatis. Dengan demikian, bagi Al-Ghazali bahwa al-dzawq(intuisi) lebih tinggi dan lebih percaya daripada akal untuk menangkap pengetahuan yang betul-betul diyakini kebenarannya. Sumber pengetahuan tertinggi tersebut dinamakan juga al-nubuwat, yang pada nabi-nabi berbentuk wahyu dan pada manusia berbentuk ilham.

Menurut  Al-Ghazali, lapangan filsafat ada enam, yaitu matematika, logika, fisika, politik, etika, dan metafisika. Hubungan lapangan-lapangan filsafat tersebut dengan agama tidak sama, ada yang tidak berlawanan, tetapi ada adapula yang berlawanan. Al-Ghazali berpendapat bahwa agama tidak melarang ataupun memerintahkan mempelajari matematika, karena ilmu ini adalah hasil pembuktian pikiran yang tidak bisa dipungkiri, sesudah dipahami dan diketahui. Tetapi ilmu tersebut menimbulkan dua keberatan. Pertama, karena kebenaran dan ketelitian matematika, maka boleh jadi ada orang yang mengira bahwa semua lapangan filsafat demikian pula keadaannya, termasuk ketuhanan. Kedua, sikap yang timbul dari pemeluk Islam yang bopdoh, yaitu menduga bahwa untuk menegakan agama harus mengingkari semua ilmu yang berasal dari filsuf.

Logika menurut Al-Ghazali, juga tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Logika berisi penyelidikan tentang dalil-dalil pembuktian, sylogisme, syarat-syarat pembuktian, definisi-definisi, dsb. Semua persoalan ini tidak perlu diingkari, sebab masih sejenis dengan yang dipergunakan mutakallimin, meskipun kadang-kadang berbeda istilah.

Ilmu fisika menurut Al-Ghazali, membicarakan tentang planet-planet, unsure-unsur tunggal , kemudian benda-benda tersusun, sebab-sebab perubahandan pelarutannya. Ilmu fisika tidak perlu diingkari, kecuali dalam empatpersoalan, yang dapat disimpulkan bahwa alam semesta ini dikuasai oleh tuhan, tidak bekerja dengan dirinya sendiri, tetapi bekerja dengan zat tuhan, zat penciptanya.

Lebih lanjut Al-Ghazali membagi fisuf kepada tiga golongan, yaitu matrialistis (dahriyyun), naturalis (thabi’iyyun), dan Theis (ilahiyyun). Kelompok pertama terdiri dari para filsuf awal, seperti Emedokles (490-430 SM) dan Demokritus (460-430 SM), mereka menyangkal pencipta dan pengatur dunia, dan yakin bahwa dunia ini telah ada dengan sendirinya sejak dulu. Peristiwa-peristiwa alam adalah perubahan yang terus-menerus. Al-ghazali menganggap mereka tidak beragama. Naturalis terpesona oleh keajaiban penciptaan dan sadar akan maksud yang berkelanjutan dan kebijaksanaan dalam rencana segala sesuatunya, mengakui eksistensi suatu pencipta bijaksana tetapi menyangkal kerohanian dan sifat immateriality jiwa manusia. Kaum theis tergolong para filsuf lebih modern dan mencakup Socrates, plato, aristoteles. Meski menyerang golongan materialis dan naturalis, serta menelanjangi cacat-cacat mereka dengan efektif sekali, Al-Ghazali berpendapat, kaum theis  ini masih menyimpan sisa kekafiran dan paham bid’ah. Sebab itu dia menilai mereka maupun para filsuf muslim yang mengikutinya, sebagai kaum kafir. Menurut pendapatnya, diantara pengikut mereka, Al-Farabi dan ibn sina adalah penerus terbaik filsafat aristoteles ke dalam dunia islam.

B.Metafisika

Lain halnya dengan lapangan metafisika (ketuhanan), Al-Ghazali memberikan reaksi keras terhadap neo-platoisme Islam, menurutnya banyak sekali terdapat kesalahan filsuf, karena mereka tidak teliti seperti halnya dalam lapangan logika dan matematika. Untuk itu Al-Ghazali mengecam secara langsung dua tokoh neo-platoisme muslim (Al-Farabi dan Ibn Sina), dan secara tidak langsung lepada aristoteles, guru mereka.

Pendapat bahwa alam qadim dalam arti tidak bermula atau tidak pernah tidak ada di masa lampau, tidak dapat diterima dalam teologi islam. Sebab, menurut konsep teologi islam , tuhan adalah pencipta. Yang dimaksud dengan “pencipta” adalah yang menciptakan sesuatu dari tiada (creatio ex nihilio).

Tentang ilmu tuhan, golongan filsuf berpendirian bahwa tuhan tidak mengetahui hal-hal dan peristiwa-peristiwa kecil kecuali dengan cara yang umum (kulliyat universal). Pengetahuan universal tidaklah tunduk, seperti pengetahuan “particular”, kepada pembatasan-pembatasan ruang dan waktu. Karena itu tuhan mengetahui suatu peristiwasebelum atau sesudah kejadiannya, secara serentak. Karena ia mengetahui secara a priori rangkaian sebab-sebab darimana ia pada akhirnya akan berhenti. Dikehendaki oleh para para fisuf dengan pemahaman bahwa tuhan mengetahui segala sesuatu secara umum adalah bahwa ilmu-Nya yang juga adalah zat-Nya bersifat kekal, tetap, dan tidak berubah dengan perubahan yang terjadi pada objek-objek diluar zat tuhan.

Menurut Al-Ghazali ilmu tuhan adsalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat, kalau terjadi perubahan pada tambahan atau sifat tambahan tersebut, zat tuihan tetap dalam keadaannya. Selanjutnya Al-Ghazali menyangkal kalau perubahan ilmu dapat menimbulkan suatu perubahan pada ”zat yang mengetahui”. Inti dari jawaban Al-Ghazali didasarkan atas sifat kemahakuasaan tuhan, bahwa tuhan mampu menciptakan segala sesuatu dari tiada. Karena itu, ia pun mampu membangkitkan kembali tubuh dan tulang belulang manusia yang telah hancur menjadi tanah kedalam bentuk semula.

C.Moral

Dalam karya-karya Al-Ghazali, persoalan ahlak belum menjadi masalah pokok. Hanya dalam satu karya masa awalnya, mizan al-Amal, akhlak merupakan bahan pemikiran utama. Kebanyakan karya-karya akhirnya, bersifat etis moralitas yang menjamin kebahagian sempurna adapun teori etika dikembangkannya bersifat religious dan sufi.

Ada tiga teori penting mengenai tujuan mempelajari akhlak, yaitu (a) mempelajari akhlak sekedar sebagai studi murni teoritis, yang berusaha memahami cirri kesusilaan , tetapi tanpa maksud mempengaruhi perilaku orang yang mempelajarinya, (b) mempelajari akhlak sehingga akan meningkatkan sikap dan perilaku sehari-hari,(c) karena akhlak terutama merupakan subjek teoritis yang berkenaan dengan usaha menemukan kebenaran dengan usaha menemukan kebenaran tentang hal-hal moral, maka dalam penyelidikan akhlak harus terdapat kritik yang terus-menerus mengenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlak menjadi suatu subjek praktis, seakan-akan tanpa maunya sendiri. Al-Ghazali setuju dengan teori yang kedua . dia menyatakan bahwa tentang ilm al-mu’ amalah dimaksudkan guna latihan kebiasaan ; tujuan latihan adalah untuk meningkatkan keadaan jiwa agar kebahagian dapat dicapai di akhirat. Tanpa kajian ilmu ini, kebaikan tak dapat dicari dan keburukan tak dapat dihindari dengan sempurna.

Adapun masalah kebahagiaan, menurut Al-Ghazali tujuan manusia adalah kebahagian ukhrawi, yang bisa diperoleh jika persiapan yang perlu untuk itu dilaksanakan dalam hidup ini dengan mengendalikan sifat-sifat manusia dan bukan dengan membuannya. Kebahagian ukhrawi mempunyai empat cirri khas, yakni berkelanjutan tanpa akhir, kegembiraan tanpa dukacita, pengetahuan tanpa kebodohan dan kecukupan, yang tak membutuhkan apa-apa lagi guna kepuasan yang sempurna.

D.Jiwa

Manusia menurut Al-Ghazali diciptakan Allah sebagai mahluk yang terdiri dari jiwa dan jasad. Jiwa yang menjadi inti hakikat manusia adalah mahluk spiritual rabbani  yang sangat halus. Istilah-istilah yang digunakan al-Ghazali untuk itu adalah qalb, ruh, nafs, dan aql.

Jiwa bagi Al-ghazali adalah suatu zat dan bukan suatu keadaan atau eksiden , sehingga ia ada pada dirinya sendiri. Jasadlah yang adanya bergantung pada jiwa, dan bukan sebaliknya. Jiwa berada di alam sama dengan malaikat. Asal dan sifatnya ilahiyah. Ia tidak pre-eksisten, tidak berawal dengan waktu, seperti menurut plato dan filsuf lainnya. Tiap jiwa pribadi diciptakan Allah dialam alas pada saat benih manusia memasuki rahim, dan jiwa  lalu dihubungkan dengan jasad.

Menurut Al-Ghazali , kendatipun para filsuf muslim menyakini keabadian jiwa, tetapi pembuktian nmereka dengan akal, hanya bisa ke taraf kemungkinan. Pengetahuan pasti tentang kebakaan. Hanya diberikan  oleh agama. Persoalan yang muncul, bagaimana menyakinkan orang yang ragu-ragu terhadap informasi agama.

Bagi Al-ghazali, jiwa yang berasal dari ilahi mempunyai potensi kodrati, yaitu kecendrungannya kepada  kebaikan dan keengganan kepada kekejian. Mengenai prihal kekekalan jiwa yang problematic itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa tuhan sesunguhnya dapat menghancurkan jiwa, tetapi ia tidak melakukannya. Disini Al-Ghazali berada di persimpangan pandangan sebagai mutakalimin, dan pandangan sebagai filsuf. Dengan demikian bantahan Al-Ghazali terhadap filsuf dalam bukunya, tahafut al-falasifah, bukan ditekankan pada kekekalan jiwa; yang dibantahnya adalah dalil-dalil rasional yang digunakan para filsuf untuk membuktikan kekekalan jiwa itu.

Adapun hubungan jiwa dan jasad dari segi moral adalah, setiap jiwa diberi jasad, sehingga dengan bantuannya jiwa bisa mendapatkan bekal bagi hidup kekalnya.jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat baginya untuk mencari bekal dan kesempurnaan; karena jasad sangat sangat diperlukan oleh jiwa maka harus dirawat baik-baik.

Selain hubungan jiwa dan jasad , Al-Ghazali juga mnyebutkan bahwa hubungan dimaksud pada hakikatnya sama dengan interaksionisme.meskipun jiwa dan jasad merupakan wujud yang berbeda, keduanya saling mempengaruhi dan menentukan jalannya masing-masing. Karena itu, bagi Al-Ghazali setiap perbuatan akan menimbulkan pengaruh pada jiwa, yakni membentuk kualitas jiwa, asalkan perbuatan itu dilakukan secara sadar.sementara perbuatan yang dilakukan secara tanpa sadar tidak akan mempengaruhi jiwa.

Daftar pustaka

1.Nasution. hasyimsyah, Filsafat islam, cet ke 3, Jakarta: gaya pratama Jakarta,1999

2.Yakub. Ismail, Hya’al Ghazali, semarang: c.v faizan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: